
BPS: inflasi September 2026 naik ke 3,28 persen, pangan 4,37 dan transportasi 4,84 persen. BI-Rate tetap 5,75 persen. Ini dampaknya ke dompetmu.
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka inflasi September 2026 pada 1 Oktober 2026. Harga barang dan jasa secara umum naik 3,28 persen dibanding September 2025, lebih tinggi dari 3,19 persen sebulan sebelumnya. Seminggu sebelumnya, Bank Indonesia (BI) memutuskan menahan suku bunga acuan BI-Rate di 5,75 persen. Dua angka ini bertemu di satu tempat: dompetmu.
Artinya buat kamu: Uang Rp1 juta yang kamu pakai belanja setahun lalu kini rata-rata butuh sekitar Rp1.032.800 untuk barang yang sama, dan untuk belanja dapur lebih mahal lagi.
| Indikator | Angka | Periode |
|---|---|---|
| Inflasi tahunan (y-on-y) | 3,28% | September 2026 |
| Inflasi tahunan bulan sebelumnya | 3,19% | Agustus 2026 |
| Inflasi bulanan (m-to-m) | 0,30% | September 2026 |
| Inflasi sejak Januari (y-to-d) | 2,17% | Januari sampai September 2026 |
| Makanan, minuman, dan tembakau | 4,37% | September 2026, tahunan |
| Transportasi | 4,84% | September 2026, tahunan |
| Harga bergejolak (pangan segar) | 5,03% | September 2026, tahunan |
| BI-Rate | 5,75% | RDG 22 sampai 23 September 2026 |
Angka 3,28 persen itu rata-rata. Isi keranjang belanjamu bisa naik lebih cepat. Menurut BPS, kelompok makanan, minuman, dan tembakau naik 4,37 persen setahun, dan transportasi naik 4,84 persen. Komponen harga bergejolak, yang isinya kebanyakan pangan segar, naik 5,03 persen.
Khusus September, kenaikan bulanan paling banyak disumbang cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, beras, dan telur ayam ras. Dalam hitungan setahun, penyumbang terbesar di kelompok pangan adalah ikan segar, daging ayam ras, cabai rawit, beras, dan minyak goreng. Di sisi transportasi, bensin menyumbang 0,31 poin persen ke inflasi tahunan, angka terbesar di antara komoditas transportasi. BI mencatat kenaikan bulanan ini terkait harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex.
Ada juga yang turun. Bawang merah, telur ayam ras, cabai merah, kelapa, tomat, dan tarif jalan tol justru menahan inflasi dalam hitungan setahun.
Satu komoditas yang jarang masuk obrolan dapur justru jadi penyumbang tunggal terbesar: emas perhiasan, dengan andil 0,44 poin persen dari 3,28 persen. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, tempat emas perhiasan dihitung, naik 7,77 persen setahun. BI menyebut ini sejalan dengan kenaikan harga emas dunia. Kalau kamu berencana beli perhiasan untuk hantaran atau mahar, siapkan anggaran lebih.
BI menahan BI-Rate di 5,75 persen pada RDG September, tiga bulan berturut-turut. Tapi kalau ditarik sedikit ke belakang, data BI menunjukkan BI-Rate masih 4,75 persen pada 22 April 2026, lalu naik ke 5,25 persen (20 Mei), 5,50 persen (9 Juni), dan 5,75 persen (18 Juni). Total naik 1 poin persen dalam dua bulan.
BI menyebut keputusan ini untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global. Rupiah tercatat Rp17.855 per dolar AS pada 22 September 2026. BI tetap meyakini inflasi berada dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen pada 2026 dan 2027. Artinya 3,28 persen masih di dalam kisaran, tapi sudah mendekati batas atas 3,5 persen.
Ilustrasi hitungan Ktemu dari angka BPS: belanja yang setahun lalu Rp1.000.000 kini rata-rata butuh sekitar Rp1.032.800. Untuk belanja makanan, minuman, dan tembakau, Rp1.000.000 setahun lalu kini sekitar Rp1.043.700. Untuk transportasi, sekitar Rp1.048.400. Kalau gajimu tidak naik setahun terakhir, daya belimu turun kira-kira sebesar itu.
Inflasi 3,28 persen masih dalam sasaran BI, tapi buat rumah tangga yang belanjanya didominasi makanan dan bensin, kenaikan yang terasa bisa lebih tinggi dari rata-rata.
Disusun dengan bantuan AI dari sumber resmi yang ditautkan di atas. Temukan kesalahan? Kirim koreksi lewat ktemu.com/kontak.
Komentar
Masuk dengan akun komentator Weblu untuk menulis komentar.